Makalah SUBJEK PENDIDIKAN MURID
MAKALAH
“SUBJEK PENDIDIKAN MURID”
Disusun sebagai tugas Mata Kuliah
Al Islam IV
Dosen Pengampu Ibu Desi Amalia,
SHI., MA.HK

Disusun
Oleh:
Kelompok II
Kelompok II
1. Sri
Sumartini (15040003)
2. Widiyawati (15040014)
3. Ria
Destiana (15040030)
4. Yessi
Puspita Rani (15040037)
PENDIDIKAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH
TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
2017
KATA
PENGANTAR
Assalamuallaikum
Wr. Wb
Puji
dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya lah kami dapat
menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa kami mengucapakan terima kasih kepada
dosen mata kuliah al islam IV (Ulumul Qur’an dan Hadist) dosen pengampu Desi
Amalia,SHI.,MA HK dan teman- teman lain yang telah mendukung dalam kelancaran
pembuatan makalah ini serta Orang Tua yang selalu mendoakan dan memotivasi.
Adapun
maksud dan tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas kelompok
Mata Kuliah Al Islam IV. Didalam penulisan makalah ini kami menyadari bahwa
masih terdapat kekurangan dan kekeliruan. Untuk itu kami mengharapkan kritik
dan saran yang membangun dari pembaca untuk menyusun makalah lain di masa yang
akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat tidak hanya bagi kami tetapi juga
bagi pembaca.
Wassalamuallaikum Wr. Wb
Pringsewu,
14
Oktober 2017
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Agama Islam sangat menganjurkan kepada manusia untuk selalu belajar. Bahkan
Islam mewajibkan kepada setiap orang yang beriman untuk belajar. Dalam Islam
pendidikan tidak hanya dilaksanakan dalam batasan waktu tertentu saja,
melainkan dilakukan sepanjang usia.
Islam memotivasi pemeluknya untuk selalu meningkatkan kualitas keilmuan dan
pengetahuan. Tua atau muda, pria atau wanita, miskin atau kaya mendapatkan
porsi sama dalam pandangan Islam dalam kewajiban untuk menuntut ilmu
(pendidikan).
Kehidupan
kita tidak terlepas dari pendidikan.
Pendidikan sangat penting bagi kita umat Islam. Sebagai seorang calon pendidik,
tentunya kita diharapkan menjadi seorang pendidik yang profesional. Dalam Al
–Qur’an telah dijelaskan bagaimana menjadi guru yang baik dan profeional.
Dengan demikian kita akan dapat bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan
ajaran islam. Selain kita mendapatkan rizqi kita juga akan mendapatkan berkah
dan ridhonya dari Allah SWT. Pada bab selanjutnya akan dibahas lebih detail
tentang subjek pendidikan murid.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Subjek Pendidikan
Secara
etimologi pendidik adalah orang yang memberikan bimbingan. Secara terminologi
terdapat beberapa pendapat pakar pendidikan tentang pengertian pendidik, salah
satunya yaitu Menurut Muri Yusuf, mengemukakan bahwa pendidik adalah individu
yang mampu melaksanakan tindakan mendidik dalam situasi pendidikan untuk
mencapai tujuan pendidikan.
Secara
etimologi peserta didik adalah anak
didik yang mendapat pengajaran ilmu. Peserta didik adalah setiap manusia yang
berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur
pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang
pendidikan dan jenis pendidikan tertentu. Oleh sebab itu Peserta didik
merupakan subjek terpenting dalam pendidikan.
Siswa atau
peserta didik adalah salah satu komponen manusia yang menempati posisi sentral
dalam proses belajar mengajar peserta didiklah yang menjadi pokok persoalan dan
sebagai tumpuan perhatian.
Jadi, Subjek
pendidikan adalah orang yang berkenaan langsung dengan proses pendidikan dalam
hal ini pendidik dan peserta didik.
B.
Karakteristik
Peserta Didik
1)
Peserta didik bukan miniature orang
dewasa, ia mempunyai dunia sendiri, sehingga metode belajar mengajar tidak
boleh dilaksanakan dengan orang dewasa, orang dewasa tidak patut
mengeksploitasi dunia peserta didik, dengan keinginannya, sehingga peserta
didik kehilangan dunianya.
2)
Peserta didik memiliki kebutuhan dan
menuntut untuk pemenuhan kebutuhan itu semaksimal mungkin.
3)
Pesrta didik merupakan subjek dan objek
sekaligus dalam pendidikan yang dimungkinkan dapat aktif, kreatif, serta
produktif. Setiap peserta didik memiliki aktivitas sendiri (swadaya) dan
kreatifitas sendiri (daya cipta), sehingga dalam pendidikan tidak hanya
memandang anak sebagai objek pasif yang biasanya hanya menerima, mendengarkan
saja.
4)
Peserta didik mengikuti periode-periode
perkembangan tertentu dalam mempunyaibpola tertentu dalam mempunyai pola
perkembangan serta tempo dan iramanya. Implikasi dalam pendidikan adalah
bagaimana proses pendidikan itu dapat disesuaikan dengan pola dan tempo, serta
irama perkembangan peserta didik. Kadar kemampuan peserta didik sangat
ditentukan oleh usia danperiode perkembangannya.
C.
Sifat dan
Kode Etik Peserta Didik
Sifat-sifat
dan kode etik peserta didik merupakan kewajiban yang harus dilaksanakannya
dalam proses belajar mengajar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Al-Ghazali,
yang dikutip oleh fathiyah hasan sulaiman, merumuskan sebelas pokok kode etik
peserta didik, yaitu:
1) Belajar
dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub kepada Allah SWT, sehingga dalam
kehidupan sehari-hari peserta didik dituntut untuk menyucikan jiwanya dari
akhlak yang rendah dan watak yang tercela (takhalli) dan mengisi dengan akhlak
yang terpuji (tahalli) (perhatikan QS.Al-An’am:162,Al-Dzariyat:56).
2) Mengurangi
kecenderungan pada duniawi dibandingkan masalah ukhrawi (QS. Adh Dhuha).
Artinya belajar tak semata- mata untuk mendapatkan pekerjaan, tapi juga belajar
ingin berjihat melawan kebodohan demi mencapai derajat kemanusiaan yang tinggi
baik dihadapan manusia dari Allah SWT.
3) Bersikap
tawadlu (rendah hati) dengan cara menaggalkan kepentingan pribadi untuk
kepentingan pendidikannya. Sekalipun cerdas, tetapi ia bijak dalam menggunakan
kecerdasan itu pada pendidikannya, termasuk juga bijak kepada teman- temannya
yang IQ-nya lebih rendah.
4) Menjaga
pikiran dan pertentangan yang timbul dari berbagai aliran, sehingga ia fokus
dan dapat memperoleh satu kompensasi yang utuh dan mendalam dalam belajar.
5) Mempelajari
ilmu- ilmu yang terpuji (mahmudah) baik untuk ukhrawi maupun untuk duniawi
serta meninggalkan ilmu- ilmu yang tercela (madzmumah).
6) Mengenal
nilai- nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari sehingga mendatangkan
objektivitas dalam memandang suatu masalah.
D.
Dalil
Al-Qur’an
1.
QS. At Taubah ayat 122

Artinya:
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa
tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya
apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga
dirinya.”
2.
QS. An-Nissa ayat 170

Artinya:
“Wahai manusia, Sesungguhnya Telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan
(membawa) kebenaran dari Tuhanmu, Maka berimanlah kamu, Itulah yang lebih baik
bagimu. dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah
sedikitpun) Karena Sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah
kepunyaan Allah.[4] dan adalah Allah Maha mengetahui
lagi Maha Bijaksana.”
3.
Q.S Asy-Syu’araa ayat 214

Artinya :
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”
4.
QS. At-Tahrim ayat 6

Artinya: “Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
5.
QS. Al-Kahfi ayat 66
QS. Al-Kahfi ayat 66
Artinya: “Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah
aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara
ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu.”
6.
QS. An-Nahl ayat 43-44
QS. An-Nahl ayat 43-44
Artinya: “dan Kami tidak mengutus sebelum kamu,
kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah
kepada orang yang mempunyai pengetahuanjika kamu tidak mengetahui,
keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al
Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada
mereka dan supaya mereka memikirkan.”
E.
Kosa Kata
1.
QS. An- Nissa : 170
|
Kosa Kata
|
Terjemah
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
QS. At- Taubah :122
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
QS. Asy-Syura :26
|
|
|
4.
QS. At- Tahrim :6
|
|
|
F.
Azbabun
Wurud (Hadist)
1.
HR. Abu Hurairah
HR. Abu Hurairah
Artinya:
Tiadaklah anak dilahirkan atas dasar fitrah, maka kedua orang tuanya
mendidiknya menjadi Yahudi atau Nasrani.
Atas dasar
Hadist tersebut maka kita dapat memperoleh petunjuk bahwa fitrah sebagai faktor
pembawaan sejak lahir manusia dapat dipengaruhi oleh lingkungan diluar dirinya,
bahkan ia tak akan dapat berkembang sama sekali bila tanpa adanya pengaruh
lingkungan. Dengan demikian pengaruh lingkungan menjadi suatu keniscayaan agar
kemampuan atau potensi dapat berkembang.
G.
Azbabun
Nuzul (Al-Qur’an)
1.
Qs. At-Taubah ayat 122
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari
‘Ikrimah bahwa ketika turun ayat, “Jika kamu tidak berangkat (untuk
berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih...” (QS.
at-Taubah:39). Padahal pada waktu itu sejumlah orang tidak ikut berperang
karena sedang berada di padang pasir untuk mengajarkan agama kepada kaum
mereka, maka orang-orang munafik mengatakan, “Ada beberapa oarng di padang
pasir yang tinggal (tidak ikut berperang). Celakalah orang-oarng padang pasir
itu.” Maka turunlah ayat, “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu
semuanya pergi (ke medan perang)...”
Selain itu Ibnu Abi Hatim
meriwayatkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Ubai bin Umar yang
menceritakan, bahwa mengingat keinginan kaum muslimin yang sangat besar-besaran
untuk berjihad, katanya, “Orang-orang Islam diberi galakkan supaya berjihad,
apabila Rasulullah SAW menghantar bala tentera ke medan perang mereka akan
keluar beramai-ramai. Pada masa yang sama mereka meninggalkan Rasullullah SAW
di Madinah bersama orang-orang yang lemah.” Maka turunlah firman Allah SWT yang
paling atas tadi (yaitu QS. Surat Al-Taubah ayat 122).
2.
QS. Asy-Syu’ara ayat 214
Ibnu Jarir
meriwayatkan dari Ibnu Juraij bahwa ketika turunnya ayat, “Dan berilah
peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat.”beliau meulai
dari keluarga dan marganaya, sehingga hal itu terasa berat atas kaum muslimin.
Maka Allah menurunkan ayat 215,”Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang
yang beriman yang mengikutimu.
H.
Hubungan
Dalil Al-Qur’an dalam Subjek Pendidikan Murid
1.
QS. An-Nisa ayat 170
Dalam ayat
ini menyeru umat manusia untuk beriman, sebab sudah ada Rasul (Nabi Muhammad
SAW) yang diutus untuk membawa syari’at yang benar. Allah SWT menyebutkan sebab
diharuskannya beriman kepadanya dan manfaat dari beriman kepadanya, adapun
sebab yang mengaharuskan untuk beriman adalah kabar Allah bahwa ia datang
kepada mereka dengan membbawa kebenaran.
Artinya,
kedatangan merupakan syari’at itu sendiri adalah suatu kebenaran dan apa yang
dibawanya berupa syari’at adalah kebenaran. Seorang yang berakal akan
mengetahui bahwatetapnya orang dalam kejahilan bingung akan kekufuran mereka
terus didera kebimbangan, dan risalah telah terputus dari merka dan tidak
sesuai dengan hikmah Allah dan Rahmat-Nya.
2.
QS. At-Taubah ayat 122
Kewajiban
mendalami Agama dan kesiapan untuk mengajarkannya. Tujuan utama dari
orang-orang yang mendalami agama karena ingin membimbing kaumnya, mengajari
mereka dan member peringatan kepada mereka tentang akibat kebodohan dan tidak
mengamalkan apa yang mereka ketahui, dngan harapan supaya mereka takut kepada
Allah dan berhati-hati terhadap akibat kemaksiatan, disamping agar seluruh kaum
Mu’minin mengetahiu agama mereka, mampu menyebarkan dakwahnya dan membelanya, serta
menerangkan rahasia-rahasianya kepada seluruh umat manusia.
Jadi,
bukan bertujuan memperoleh kepemimpinan dan kedudukan yang tinggi serta
mengungguli kebanyakan oang-orang lain, atau bertujuan untuk memperoleh harta
dan meniru orang zhalim dan para penindas dalam berpakaian, berkendara maupun
dalam persaingan di antara mereka.
Belajar mempunyai peranan yang
penting dalam kehidupan. Dengan belajar orang akan memiliki pengetahuan. Oleh
sebabnya belajar dapat menambah ilmu pengetahuan baik teori maupun praktik
serta belajar dinilai sebagai ibadah kepadda Allah. Pada hakikatnya, proses
pembelajaran merupakan interaksi antara guru dan siswa. Guru sebagai
penyampaian materi pembelajaran dan siswa sebagai pencari ilmu pengetahuan
sekaligus sebagai penerimanya.
Pada ayat ini memberi anjuran tegas
kepada umat Islam agar ada sebagaian dari umat Islam memperdalam agama. Dalam
Safwah al-Tafsir dikatakan bahwa yang dimaksud kata tafaqquh fi al-din adalah
menjadi seorang yang mendalami ilmunya dan selalu memiliki tanggung jawab dalam
pencarian ilmu Allah. Dengan demikian menurut tafsir ini dalam sistem
pendidikan Islam tidak dikenal dengan dikotomi pendidikan, karena akan
menimbulkan dampak kesenjangan antara sistem pendidikan Islam dan ajaran Islam
yang memisahkan antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum.
3.
QS. Asy-Syu’ara ayat 214
Dari ayat
tersebut dapat diambil poin-poin penting yang dapat kita jadikan pegangan dalam
membina diri sendiri dan orang lain:
1)
Niat yang lurus, semata-mata demi meraih ridha Allah
Subhanahu wa ta’ala. Melaksanakan syari’ah islam dan melaksanakan da’wah.
2)
Proses pembinaan dimulai dari diri sendiri.
3)
Bekal ilmu adalah yang utama.
Takwa
adalah kunci dalam memelihara diri kita sendiri dan keluarga kita dari api
neraka. Proses pembinaan selanjutnya dimulai dari orang-orang dekat, dimulai
ari keluarga sampai teman-teman dekat. Kesabaran berperan penting.
4.
QS. At-Tahrim ayat 6
Ayat
tersebut menggambarkan bahwa dakwah dan pendidikan harus bermula dirumah. Ayat
tersebut walau secara redaksional tertuju kepada kaum pria (ayah), tetapi itu
bukan berarti hanya tertuju kepada mereka. Ayat ini tertuju kepada perempuan
juga (ibu). Berikut adalah beberapa pelajaran yang dapat diambil dalam Q.S At-Tahriim
ayat 6 yaitu sebagai berikut:
1)
Perintah takwa kpada Allah SWT dan berdakwah, dalam
ayat tersebut Allah berfirman ditujukan kep[ada orang-orang yang percaya kepada
Allah dan Rasul-rasu-Nya, yaitu memerintahkan supaya mereka menjaga dirinya
dari api nerakayang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, dengan taat
an patuh melaksanakan perintah Allah, dan mengajarkan kepada keluarganya supaya
taat dan patuh kepada perintah Allah untuk menyelamatkan mereka dari api
neraka.
Caranya
membina diri kita sendiri terlebih dahulu dalam mendalami akidah dan adab islam
kemudian setelah kita mampu melaksanakan maka kita wajib mendakwahkan kepada
yang lain yaitu orang-orang terdekat kita (keluarga, saudara, dan teman
terdekat).
2)
Anjuran menyelamatkan diri dan keluarga dari api neraka,
banyak sekali amalan shalih yang menjadikan sesorang masuk surge dan dijauhkan
dari api neraka.
3)
Pentingnya pndidikan islam sejak dini, anak adalah
asset bagi orang tua dan ditangan orang tua lah anak-anak tumbuh dan menemukan
jalan-jalannya. Banyak orang tua salah asuh kepada anak-anak sehingga
perekmbangan fisik yang cepat di era globalisai ini tidak di iringi dengan
perkembangan mental dan spiritual yang benar kepada anak sehingga banyak prilak
kenakalan-kenakalan oleh para remaja.
4)
Keimanan kepada malaikat, ayat tersebut mengandung
pelajaran keimanan kita kepada sifat para malaikat yang suci dari dosa dan
tidak pernah membangkang apa yang di perintahkan oleh Allah SWT. Berbeda dengan
manusia dan jin yang kadang taat kadang pula melanggar bakan ada juga yang
tidak pernah taat sama sekali atau selalu berbuat maksiat.
5.
QS. An- Nahl ayat 43
Pada surat
An-Nahl ayat 43, Allah menjelaskan bahwa semua rasul Allah itu adalah manusia
yang diberi wahyu bukan malaikat. Tugas utama rasul adalah tabligh
(menyampaikan) wahyu dari Allah swt.tak peduli apakah tabligh itu
diterima oleh kaumnya atau tidak, tugas rasul hanyalah tabligh. Isi dari
tabligh adalah menyampaikan berita gembira (basyiiran) dan berita
menakutkan (nadziran). Tentu saja dalam proses penyampaian ini ada
proses pembelajaran, yaitu suatu proses yang merubah tingkah laku suatu kaum,
dari musyrik menjadi tauhid, dari kufur menjadi iman walaupun tidak semuanya
berubah. Dengan demikian maka rasul adalah subjek belajar kedua setelah Allah
SWT.
Masih dalam
ayat 43, Allah menegaskan kepada orang-orang kafir jika kalian tidak percaya
bahwa rasul adalah manusia, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang memiliki
pengetahuan (ahladzdzikri) tentang hal tersebut. Melalui ayat ini kita
bisa mengetahui bahwa ketika kita tidak menguasai suatu bidang ilmu, maka
hendaknya kita bertanya kepada orang yang ahli dalam bidang ilmu tersebut,
dengan demikian maka kita akan mendapatkan jawaban yang meyakinkan karena
dijawab oleh Ahlinya.
Jika kita
tarik ke dalam teori pendidikan, maka proses pembelajaran yang disampaikan oleh
Allah ini adalah proses pembelajaran inquiry. Yaitu suatu proses pembelajaran
dimana anak didik menemukan masalah dan secara aktif siswa tersebut mencari
jawabannya. Dalam ayat ini musyrikin Quraisy merasa tidak yakin akan kerasulan
Nabi Muhammad, karena Nabi Muhammad adalah seorang manusia, maka Allah
memerintahkan kepada musyrikin Quraisy tersebut untuk mencari jawabannya
sendiri kepada orang-orang Ahli Kitab, tentang rasul mereka sebelum Nabi Muhammad,
apakah berbentuk manusia atau malaikat. Dengan demikian maka subjek pendidikan
pada lanjutan ayat 43 ini adalah musyrikin Quraisy atau dalam konteks
pendidikan adalah peserta didik. Adapun ahludzdzikri hanyalah sebagai
fasilitator atau sumber belajar saja.
Pada ayat
44, Allah menegaskan bahwa kedatangan para rasul terdahulu itu disertai dengan
mukjizat dan kitab-kitab sebagai bukti bahwa mereka adalah orang pilihan yang
diutus oleh Allah swt.Dalam konteks pendidikan peristiwa yang terjadi dilingkungan
sekitar kita merupakan sumber belajar yang tak ternilai harganya. Jika umat
terdahulu dengan melihat langsung terhadap mukjizat para rasul maka mereka
semakin yakin akan kerasulannya serta semakin kuat keimanannya kepada Allah,
maka untuk umat akhir zaman, dengan memperhatikan alam semesta yang terus
berkembang dan mengalami perubahan maka manusia bisa memetik pelajaran dari
peristiwa alam tersebut yang jika sumbernya dirunut terus menerus maka pada
akhirnya akan kembali kepada sang pencipta Allah swt. Jika pengetahuan ini
telah ditemukan maka kemudian didokumentasikan dalam bentuk buku yang bisa
dibaca kapan saja oleh generasi selanjutnya.Awal dari ayat ini menegaskan
secara tidak langsung bahwa sumber belajar itu adalah bayyinat (mukjizat,
peristiwa alam) dan zubur (kitab-kitab, buku). Dalam ayat ini menegaskan
bahwa Allah SWT menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad sebagai media
penjelasan kepada manusia tentang apa yang telah diturunkan kepada mereka.
Lanjutan ayat ini sesuai dengan awal ayat, bahwa buku adalah salah satu sumber
belajar, hanya saja buku/kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah
Al-Quran.Lanjutan ayat ini juga menjelaskan bahwa Nabi Muhammad sebagai rasul
merupakan salah satu subjek pendidikan bagi kaumnya, sebagaimana disebutkan di
atas bahwa tugas rasul adalah tabligh.
Nilai
Pendidikan dan Pelajaran yang dapat diambil dari QS. An-Nahal 43-44 antaralain:
1)
Yang berhijrah meninggalkan tempat, lingkungan, atau
situasi yang buruk demi karena Allah akan memperoleh ganjaran besar, baik
didunia maupun di akhirat.
2)
Kesabaran menghadapi tantangan dan melaksanakan
kewajiban adalah salah satu kunci utama meraih sukses.
3)
Allah memilih manusia-manusia pilihan sebagai nabi dan
rasul kepada masyarakat manusia dan memberi mereka petunjuk dan bimbingan untuk
mereka sampaikan kepada masyarakat mereka masing-masing.
4)
Jika menemukan kesulitan tanyalah kepada ahlinya.
5)
Setiap nabi diberi bukti kebenaran.
6)
Nabi muhammad diberi Al-Qur’an dan beliau bertugas
menjelaskan kandunganya, baik berupa ucapan, perbuatan maupun pembenaran atas
apa yang dilakukan orang lain.
7)
Dalam dunia pendidikan kita dituntut
untuk berusaha mencari tahu apa yang kita pelajari, sehingga kita dapat
memahami hal tersebut.
Mengajarkan kita untuk bersabar, termasuk dalam hal pendidikan yaitu kita
bersabar dalam menuntut ilmu.
6.
QS. Al-Kahfi ayat 66
Berdasarkan penjelasan di atas, maka kami menyimpulkan bahwa dalam menuntut
ilmu tidak boleh setengah- setengah, karena jika kita melakukannya dengan
setengah hati, maka hasil yang diperoleh pun tidak maksimal. Sedangkan dalam
Tafsir Al - Mishbah karangan M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa ucapan Nabi
Musa as. ini sungguh sangat halus. Beliau tidak menuntut untuk diajar tetapi
permintaannya diajukan dalam bentuk pertanyaan, “Bolehkah aku mengikutimu?”. Selanjutnya
beliau menamai pengajaran yang diharapkannya itu sebagai ikutan yakni beliau menjadikan diri beliau sebagai pengikut dan
pelajar. Beliau juga menggaris bawahi kegunaan pengajaran itu untuk dirinya
secara pribadi yakni untuk menjadi petunjuk
baginya. Di sisi lain, beliau mengisyaratkan keluasan ilmu hamba yang saleh itu
sehingga Nabi Musa as. hanya mengharap kiranya dia mengajarkan sebagian dari apa yang telah diajarkan
kepadanya.
Kita dapat menyimpulkan dari 2 sumber di atas bahwa Nabi Musa as. adalah
orang yang sangat halus dan sopan. Ia tidak memaksakan kehendaknya begitu saja
kepada hamba Allah itu, tetapi ia memintanya dengan sopan dan bertanya
“Bolehkah aku mengikutimu?.”
Ayat ini menunjukkan, bahwa murid mengikuti guru walaupun tingkatnya
terpaut jauh, dan dalam kasus belajarnya Musa kepada Khidhir tidak ada hal yang
menunjukkan bahwa Khidhir lebih mulia dari pada Musa, karena adakalanya orang
yang lebih mulia tidak mengetahui hal yang diketahui oleh orang yang tidak
lebih mulia, sebab kemuliaan itu adalah bagi yang dimuliakan Allah.
Hal ini menerangkan kepada kita bahwa orang yang berilmu belum tentu lebih
mulia daripada kita yang ilmunya masih kurang. Tetapi kita tetap diwajibkan
untuk menuntut ilmu, walaupun orang itu belum tentu lebih mulia dari kita,
karena sebenarnya tidak ada yang mengetahui kemuliaan seseorang selain Allah
SWT.
Nilai- nilai pendidikan yang terkandung dalam ayat ini antaralain:
1.
Pendidikan bukan hanya dari orang tua
kita, tetapi juga orang lain, seperti guru, dosen, pelatih, teman dan
masyarakat. Seperti dalam surat diatas yang mencontohkan bagaimana Nabi Musa
belajar kepada Khaidir.
2.
Saat berbicara atau berlaku terhadap
seorang pendidik haruslah menghormati dan bersikap sopan kepadanya.
3.
Menganggap bahwa pendidik lebih tahu
dari pada diri kita.
4.
Belajarlah dengan sungguh-sungguh, maka
kita akan berhasil.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Subjek
pendidikan adalah orang yang berkenaan langsung dengan proses pendidikan dalam
hal ini pendidik dan peserta didik.
Pendidik
sebagai Subjek Pendidikan telah dijelaskan dalam Al-Qur’an, diantaranya didalam
surat:
1)
QS. An- Nahl ayat 41-43 memerintah kita untuk bertanya
kepada orang yang lebih tahu. Kita juga diajarkan untuk bersabar dalam
pendidikan, baik dalam proses menuntut ilmu maupun mengajarkan ilmu kita.
2)
QS. Al- Kahfi ayat 66 menjelaskan kepada kita bahwa
Nabi Khidir adalah subjek pendidikan. Kita dianjurkan untuk berlaku sopan
kepada guru. Kita juga diperintahkan untuk mencari ilmu tidak hanya di sekolah,
tapi dimanapun.
3)
QS. Asy-Syu’ara ayat 214 menjelaskan bahwa belak ilmu
adalah yang Utama.
4)
QS. An-Nisa ayat 170 menjelaskan bahwa Seorang
yang berakal akan mengetahui bahwatetapnya orang dalam kejahilan bingung akan
kekufuran mereka terus didera kebimbangan, dan risalah telah terputus dari
merka dan tidak sesuai dengan hikmah Allah dan Rahmat-Nya.
B. Saran
Semoga kita
nanti dapat menjadi subjek pendidik yang baik di dalam pendidikan.
Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
Kritik dan Saran kami harapkan untuk dapat memperbaiki di pembutan makalah
selanjutnya.
Komentar
Posting Komentar