Makalah SUBJEK PENDIDIKAN MURID


MAKALAH
“SUBJEK PENDIDIKAN MURID”
Disusun sebagai tugas Mata Kuliah Al Islam IV
Dosen Pengampu Ibu Desi Amalia, SHI., MA.HK
logo stkip.png





Disusun Oleh:
Kelompok II
1.      Sri Sumartini                     (15040003)
2.      Widiyawati                       (15040014)
3.      Ria Destiana                      (15040030)
4.      Yessi Puspita Rani            (15040037)

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
2017
KATA PENGANTAR


Assalamuallaikum Wr. Wb
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa kami mengucapakan terima kasih kepada dosen mata kuliah al islam IV (Ulumul Qur’an dan Hadist) dosen pengampu Desi Amalia,SHI.,MA HK dan teman- teman lain yang telah mendukung dalam kelancaran pembuatan makalah ini serta Orang Tua yang selalu mendoakan dan memotivasi.
Adapun maksud dan tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas kelompok Mata Kuliah Al Islam IV. Didalam penulisan makalah ini kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dan kekeliruan. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk menyusun makalah lain di masa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat tidak hanya bagi kami tetapi juga bagi pembaca.
Wassalamuallaikum Wr. Wb


                                                                                                Pringsewu, 14 Oktober 2017

                                                                                                               Penyusun








BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Agama Islam sangat menganjurkan kepada manusia untuk selalu belajar. Bahkan Islam mewajibkan kepada setiap orang yang beriman untuk belajar. Dalam Islam pendidikan tidak hanya dilaksanakan dalam batasan waktu tertentu saja, melainkan dilakukan sepanjang usia.

Islam memotivasi pemeluknya untuk selalu meningkatkan kualitas keilmuan dan pengetahuan. Tua atau muda, pria atau wanita, miskin atau kaya mendapatkan porsi sama dalam pandangan Islam dalam kewajiban untuk menuntut ilmu (pendidikan).
Kehidupan kita  tidak terlepas dari pendidikan. Pendidikan sangat penting bagi kita umat Islam. Sebagai seorang calon pendidik, tentunya kita diharapkan menjadi seorang pendidik yang profesional. Dalam Al –Qur’an telah dijelaskan bagaimana menjadi guru yang baik dan profeional. Dengan demikian kita akan dapat bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan ajaran islam. Selain kita mendapatkan rizqi kita juga akan mendapatkan berkah dan ridhonya dari Allah SWT. Pada bab selanjutnya akan dibahas lebih detail tentang subjek pendidikan murid.














BAB II
PEMBAHASAN


A.    Hakikat Subjek Pendidikan
Secara etimologi pendidik adalah orang yang memberikan bimbingan. Secara terminologi terdapat beberapa pendapat pakar pendidikan tentang pengertian pendidik, salah satunya yaitu Menurut Muri Yusuf, mengemukakan bahwa pendidik adalah individu yang mampu melaksanakan tindakan mendidik dalam situasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Secara etimologi  peserta didik adalah anak didik yang mendapat pengajaran ilmu. Peserta didik adalah setiap manusia yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu. Oleh sebab itu Peserta didik merupakan subjek terpenting dalam pendidikan.

Siswa atau peserta didik adalah salah satu komponen manusia yang menempati posisi sentral dalam proses belajar mengajar peserta didiklah yang menjadi pokok persoalan dan sebagai tumpuan perhatian.

Jadi, Subjek pendidikan adalah orang yang berkenaan langsung dengan proses pendidikan dalam hal ini pendidik dan peserta didik.


B.     Karakteristik Peserta Didik
1)      Peserta didik bukan miniature orang dewasa, ia mempunyai dunia sendiri, sehingga metode belajar mengajar tidak boleh dilaksanakan dengan orang dewasa, orang dewasa tidak patut mengeksploitasi dunia peserta didik, dengan keinginannya, sehingga peserta didik kehilangan dunianya.
2)      Peserta didik memiliki kebutuhan dan menuntut untuk pemenuhan kebutuhan itu semaksimal mungkin.
3)      Pesrta didik merupakan subjek dan objek sekaligus dalam pendidikan yang dimungkinkan dapat aktif, kreatif, serta produktif. Setiap peserta didik memiliki aktivitas sendiri (swadaya) dan kreatifitas sendiri (daya cipta), sehingga dalam pendidikan tidak hanya memandang anak sebagai objek pasif yang biasanya hanya menerima, mendengarkan saja.
4)      Peserta didik mengikuti periode-periode perkembangan tertentu dalam mempunyaibpola tertentu dalam mempunyai pola perkembangan serta tempo dan iramanya. Implikasi dalam pendidikan adalah bagaimana proses pendidikan itu dapat disesuaikan dengan pola dan tempo, serta irama perkembangan peserta didik. Kadar kemampuan peserta didik sangat ditentukan oleh usia danperiode perkembangannya.

C.    Sifat dan Kode Etik Peserta Didik
Sifat-sifat dan kode etik peserta didik merupakan kewajiban yang harus dilaksanakannya dalam proses belajar mengajar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Al-Ghazali, yang dikutip oleh fathiyah hasan sulaiman, merumuskan sebelas pokok kode etik peserta didik, yaitu:
1)      Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub kepada Allah SWT, sehingga dalam kehidupan sehari-hari peserta didik dituntut untuk menyucikan jiwanya dari akhlak yang rendah dan watak yang tercela (takhalli) dan mengisi dengan akhlak yang terpuji (tahalli) (perhatikan QS.Al-An’am:162,Al-Dzariyat:56).
2)      Mengurangi kecenderungan pada duniawi dibandingkan masalah ukhrawi (QS. Adh Dhuha). Artinya belajar tak semata- mata untuk mendapatkan pekerjaan, tapi juga belajar ingin berjihat melawan kebodohan demi mencapai derajat kemanusiaan yang tinggi baik dihadapan manusia dari Allah SWT.
3)      Bersikap tawadlu (rendah hati) dengan cara menaggalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan pendidikannya. Sekalipun cerdas, tetapi ia bijak dalam menggunakan kecerdasan itu pada pendidikannya, termasuk juga bijak kepada teman- temannya yang IQ-nya lebih rendah.
4)      Menjaga pikiran dan pertentangan yang timbul dari berbagai aliran, sehingga ia fokus dan dapat memperoleh satu kompensasi yang utuh dan mendalam dalam belajar.
5)      Mempelajari ilmu- ilmu yang terpuji (mahmudah) baik untuk ukhrawi maupun untuk duniawi serta meninggalkan ilmu- ilmu yang tercela (madzmumah).
6)      Mengenal nilai- nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari sehingga mendatangkan objektivitas dalam memandang suatu masalah.

D.    Dalil Al-Qur’an
1.      QS. At Taubah ayat 122





Artinya: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

2.      QS. An-Nissa ayat 170







Artinya: “Wahai manusia, Sesungguhnya Telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, Maka berimanlah kamu, Itulah yang lebih baik bagimu. dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) Karena Sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah.[4] dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

3.      Q.S Asy-Syu’araa ayat 214





Artinya : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”




4.      QS. At-Tahrim ayat 6







Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

5.      QS. Al-Kahfi ayat 66






Artinya: “Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu.”

6.      QS. An-Nahl ayat 43-44






Artinya: “dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuanjika kamu tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”

E.     Kosa Kata
1.      QS. An- Nissa : 170
Kosa Kata
Terjemah
























2.      QS. At- Taubah :122





















3.      QS. Asy-Syura :26







4.      QS. At- Tahrim :6















F.     Azbabun Wurud (Hadist)
1.      HR. Abu Hurairah




Artinya: Tiadaklah anak dilahirkan atas dasar fitrah, maka kedua orang tuanya mendidiknya menjadi Yahudi atau Nasrani.

Atas dasar Hadist tersebut maka kita dapat memperoleh petunjuk bahwa fitrah sebagai faktor pembawaan sejak lahir manusia dapat dipengaruhi oleh lingkungan diluar dirinya, bahkan ia tak akan dapat berkembang sama sekali bila tanpa adanya pengaruh lingkungan. Dengan demikian pengaruh lingkungan menjadi suatu keniscayaan agar kemampuan atau potensi dapat berkembang.

G.    Azbabun Nuzul (Al-Qur’an)
1.      Qs. At-Taubah ayat 122
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Ikrimah bahwa ketika turun ayat, “Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih...” (QS. at-Taubah:39). Padahal pada waktu itu sejumlah orang tidak ikut berperang karena sedang berada di padang pasir untuk mengajarkan agama kepada kaum mereka, maka orang-orang munafik mengatakan, “Ada beberapa oarng di padang pasir yang tinggal (tidak ikut berperang). Celakalah orang-oarng padang pasir itu.” Maka turunlah ayat, “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang)...

Selain itu Ibnu Abi Hatim meriwayatkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Ubai bin Umar yang menceritakan, bahwa mengingat keinginan kaum muslimin yang sangat besar-besaran untuk berjihad, katanya, “Orang-orang Islam diberi galakkan supaya berjihad, apabila Rasulullah SAW menghantar bala tentera ke medan perang mereka akan keluar beramai-ramai. Pada masa yang sama mereka meninggalkan Rasullullah SAW di Madinah bersama orang-orang yang lemah.” Maka turunlah firman Allah SWT yang paling atas tadi (yaitu QS. Surat Al-Taubah ayat 122).

2.      QS. Asy-Syu’ara ayat 214
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Juraij bahwa ketika turunnya ayat, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat.”beliau meulai dari keluarga dan marganaya, sehingga hal itu terasa berat atas kaum muslimin. Maka Allah menurunkan ayat 215,”Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu.

H.    Hubungan Dalil Al-Qur’an dalam Subjek Pendidikan Murid
1.      QS. An-Nisa ayat 170
Dalam ayat ini menyeru umat manusia untuk beriman, sebab sudah ada Rasul (Nabi Muhammad SAW) yang diutus untuk membawa syari’at yang benar. Allah SWT menyebutkan sebab diharuskannya beriman kepadanya dan manfaat dari beriman kepadanya, adapun sebab yang mengaharuskan untuk beriman adalah kabar Allah bahwa ia datang kepada mereka dengan membbawa kebenaran.

Artinya, kedatangan merupakan syari’at itu sendiri adalah suatu kebenaran dan apa yang dibawanya berupa syari’at adalah kebenaran. Seorang yang berakal akan mengetahui bahwatetapnya orang dalam kejahilan bingung akan kekufuran mereka terus didera kebimbangan, dan risalah telah terputus dari merka dan tidak sesuai dengan hikmah Allah dan Rahmat-Nya.

2.      QS. At-Taubah ayat 122
Kewajiban mendalami Agama dan kesiapan untuk mengajarkannya. Tujuan utama dari orang-orang yang mendalami agama karena ingin membimbing kaumnya, mengajari mereka dan member peringatan kepada mereka tentang akibat kebodohan dan tidak mengamalkan apa yang mereka ketahui, dngan harapan supaya mereka takut kepada Allah dan berhati-hati terhadap akibat kemaksiatan, disamping agar seluruh kaum Mu’minin mengetahiu agama mereka, mampu menyebarkan dakwahnya dan membelanya, serta menerangkan rahasia-rahasianya kepada seluruh umat manusia.

Jadi, bukan bertujuan memperoleh kepemimpinan dan kedudukan yang tinggi serta mengungguli kebanyakan oang-orang lain, atau bertujuan untuk memperoleh harta dan meniru orang zhalim dan para penindas dalam berpakaian, berkendara maupun dalam persaingan di antara mereka.
Belajar mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan. Dengan belajar orang akan memiliki pengetahuan. Oleh sebabnya belajar dapat menambah ilmu pengetahuan baik teori maupun praktik serta belajar dinilai sebagai ibadah kepadda Allah. Pada hakikatnya, proses pembelajaran merupakan interaksi antara guru dan siswa. Guru sebagai penyampaian materi pembelajaran dan siswa sebagai pencari ilmu pengetahuan sekaligus sebagai penerimanya. 
Pada ayat ini memberi anjuran tegas kepada umat Islam agar ada sebagaian dari umat Islam memperdalam agama. Dalam Safwah al-Tafsir dikatakan bahwa yang dimaksud kata tafaqquh fi al-din adalah menjadi seorang yang mendalami ilmunya dan selalu memiliki tanggung jawab dalam pencarian ilmu Allah. Dengan demikian menurut tafsir ini dalam sistem pendidikan Islam tidak dikenal dengan dikotomi pendidikan, karena akan menimbulkan dampak kesenjangan antara sistem pendidikan Islam dan ajaran Islam yang memisahkan antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum.

3.      QS. Asy-Syu’ara ayat 214
Dari ayat tersebut dapat diambil poin-poin penting yang dapat kita jadikan pegangan dalam membina diri sendiri dan orang lain:
1)      Niat yang lurus, semata-mata demi meraih ridha Allah Subhanahu wa ta’ala. Melaksanakan syari’ah islam dan melaksanakan da’wah.
2)      Proses pembinaan dimulai dari diri sendiri.
3)      Bekal ilmu adalah yang utama.

Takwa adalah kunci dalam memelihara diri kita sendiri dan keluarga kita dari api neraka. Proses pembinaan selanjutnya dimulai dari orang-orang dekat, dimulai ari keluarga sampai teman-teman dekat. Kesabaran berperan penting.

4.      QS. At-Tahrim ayat 6
Ayat tersebut menggambarkan bahwa dakwah dan pendidikan harus bermula dirumah. Ayat tersebut walau secara redaksional tertuju kepada kaum pria (ayah), tetapi itu bukan berarti hanya tertuju kepada mereka. Ayat ini tertuju kepada perempuan juga (ibu). Berikut adalah beberapa pelajaran yang dapat diambil dalam Q.S At-Tahriim ayat 6 yaitu sebagai berikut:
1)      Perintah takwa kpada Allah SWT dan berdakwah, dalam ayat tersebut Allah berfirman ditujukan kep[ada orang-orang yang percaya kepada Allah dan Rasul-rasu-Nya, yaitu memerintahkan supaya mereka menjaga dirinya dari api nerakayang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, dengan taat an patuh melaksanakan perintah Allah, dan mengajarkan kepada keluarganya supaya taat dan patuh kepada perintah Allah untuk menyelamatkan mereka dari api neraka.

Caranya membina diri kita sendiri terlebih dahulu dalam mendalami akidah dan adab islam kemudian setelah kita mampu melaksanakan maka kita wajib mendakwahkan kepada yang lain yaitu orang-orang terdekat kita (keluarga, saudara, dan teman terdekat).
2)      Anjuran menyelamatkan diri dan keluarga dari api neraka, banyak sekali amalan shalih yang menjadikan sesorang masuk surge dan dijauhkan dari api neraka.
3)      Pentingnya pndidikan islam sejak dini, anak adalah asset bagi orang tua dan ditangan orang tua lah anak-anak tumbuh dan menemukan jalan-jalannya. Banyak orang tua salah asuh kepada anak-anak sehingga perekmbangan fisik yang cepat di era globalisai ini tidak di iringi dengan perkembangan mental dan spiritual yang benar kepada anak sehingga banyak prilak kenakalan-kenakalan oleh para remaja.
4)      Keimanan kepada malaikat, ayat tersebut mengandung pelajaran keimanan kita kepada sifat para malaikat yang suci dari dosa dan tidak pernah membangkang apa yang di perintahkan oleh Allah SWT. Berbeda dengan manusia dan jin yang kadang taat kadang pula melanggar bakan ada juga yang tidak pernah taat sama sekali atau selalu berbuat maksiat.

5.      QS. An- Nahl ayat 43
Pada surat An-Nahl ayat 43, Allah menjelaskan bahwa semua rasul Allah itu adalah manusia yang diberi wahyu bukan malaikat. Tugas utama rasul adalah tabligh (menyampaikan) wahyu dari Allah swt.tak peduli apakah tabligh itu diterima oleh kaumnya atau tidak, tugas rasul hanyalah tabligh. Isi dari tabligh adalah menyampaikan berita gembira (basyiiran) dan berita menakutkan (nadziran). Tentu saja dalam proses penyampaian ini ada proses pembelajaran, yaitu suatu proses yang merubah tingkah laku suatu kaum, dari musyrik menjadi tauhid, dari kufur menjadi iman walaupun tidak semuanya berubah. Dengan demikian maka rasul adalah subjek belajar kedua setelah Allah SWT.

Masih dalam ayat 43, Allah menegaskan kepada orang-orang kafir jika kalian tidak percaya bahwa rasul adalah manusia, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan (ahladzdzikri) tentang hal tersebut. Melalui ayat ini kita bisa mengetahui bahwa ketika kita tidak menguasai suatu bidang ilmu, maka hendaknya kita bertanya kepada orang yang ahli dalam bidang ilmu tersebut, dengan demikian maka kita akan mendapatkan jawaban yang meyakinkan karena dijawab oleh Ahlinya.

Jika kita tarik ke dalam teori pendidikan, maka proses pembelajaran yang disampaikan oleh Allah ini adalah proses pembelajaran inquiry. Yaitu suatu proses pembelajaran dimana anak didik menemukan masalah dan secara aktif siswa tersebut mencari jawabannya. Dalam ayat ini musyrikin Quraisy merasa tidak yakin akan kerasulan Nabi Muhammad, karena Nabi Muhammad adalah seorang manusia, maka Allah memerintahkan kepada musyrikin Quraisy tersebut untuk mencari jawabannya sendiri kepada orang-orang Ahli Kitab, tentang rasul mereka sebelum Nabi Muhammad, apakah berbentuk manusia atau malaikat. Dengan demikian maka subjek pendidikan pada lanjutan ayat 43 ini adalah musyrikin Quraisy atau dalam konteks pendidikan adalah peserta didik. Adapun ahludzdzikri hanyalah sebagai fasilitator atau sumber belajar saja.

Pada ayat 44, Allah menegaskan bahwa kedatangan para rasul terdahulu itu disertai dengan mukjizat dan kitab-kitab sebagai bukti bahwa mereka adalah orang pilihan yang diutus oleh Allah swt.Dalam konteks pendidikan peristiwa yang terjadi dilingkungan sekitar kita merupakan sumber belajar yang tak ternilai harganya. Jika umat terdahulu dengan melihat langsung terhadap mukjizat para rasul maka mereka semakin yakin akan kerasulannya serta semakin kuat keimanannya kepada Allah, maka untuk umat akhir zaman, dengan memperhatikan alam semesta yang terus berkembang dan mengalami perubahan maka manusia bisa memetik pelajaran dari peristiwa alam tersebut yang jika sumbernya dirunut terus menerus maka pada akhirnya akan kembali kepada sang pencipta Allah swt. Jika pengetahuan ini telah ditemukan maka kemudian didokumentasikan dalam bentuk buku yang bisa dibaca kapan saja oleh generasi selanjutnya.Awal dari ayat ini menegaskan secara tidak langsung bahwa sumber belajar itu adalah bayyinat (mukjizat, peristiwa alam) dan zubur (kitab-kitab, buku). Dalam ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad sebagai media penjelasan kepada manusia tentang apa yang telah diturunkan kepada mereka. Lanjutan ayat ini sesuai dengan awal ayat, bahwa buku adalah salah satu sumber belajar, hanya saja buku/kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah Al-Quran.Lanjutan ayat ini juga menjelaskan bahwa Nabi Muhammad sebagai rasul merupakan salah satu subjek pendidikan bagi kaumnya, sebagaimana disebutkan di atas bahwa tugas rasul adalah tabligh.

Nilai Pendidikan dan Pelajaran yang dapat diambil dari QS. An-Nahal 43-44 antaralain:
1)   Yang berhijrah meninggalkan tempat, lingkungan, atau situasi yang buruk demi karena Allah akan memperoleh ganjaran besar, baik didunia maupun di akhirat.
2)   Kesabaran menghadapi tantangan dan melaksanakan kewajiban adalah salah satu kunci utama meraih sukses.
3)   Allah memilih manusia-manusia pilihan sebagai nabi dan rasul kepada masyarakat manusia dan memberi mereka petunjuk dan bimbingan untuk mereka sampaikan kepada masyarakat mereka masing-masing.
4)   Jika menemukan kesulitan tanyalah kepada ahlinya.
5)   Setiap nabi diberi bukti kebenaran.
6)   Nabi muhammad diberi Al-Qur’an dan beliau bertugas menjelaskan kandunganya, baik berupa ucapan, perbuatan maupun pembenaran atas apa yang dilakukan orang lain.
7)   Dalam dunia pendidikan kita dituntut untuk berusaha mencari tahu apa yang kita pelajari, sehingga kita dapat memahami hal tersebut.
Mengajarkan kita untuk bersabar, termasuk dalam hal pendidikan yaitu kita bersabar dalam menuntut ilmu.

6.      QS. Al-Kahfi ayat 66
Berdasarkan penjelasan di atas, maka kami menyimpulkan bahwa dalam menuntut ilmu tidak boleh setengah- setengah, karena jika kita melakukannya dengan setengah hati, maka hasil yang diperoleh pun tidak maksimal. Sedangkan dalam Tafsir Al - Mishbah karangan M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa ucapan Nabi Musa as. ini sungguh sangat halus. Beliau tidak menuntut untuk diajar tetapi permintaannya diajukan dalam bentuk pertanyaan, “Bolehkah aku mengikutimu?”.  Selanjutnya beliau menamai pengajaran yang diharapkannya itu sebagai ikutan yakni beliau menjadikan diri beliau sebagai pengikut dan pelajar. Beliau juga menggaris bawahi kegunaan pengajaran itu untuk dirinya secara pribadi yakni untuk menjadi petunjuk baginya. Di sisi lain, beliau mengisyaratkan keluasan ilmu hamba yang saleh itu sehingga Nabi Musa as. hanya mengharap kiranya dia mengajarkan sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadanya.

Kita dapat menyimpulkan dari 2 sumber di atas bahwa Nabi Musa as. adalah orang yang sangat halus dan sopan. Ia tidak memaksakan kehendaknya begitu saja kepada hamba Allah itu, tetapi ia memintanya dengan sopan dan bertanya “Bolehkah aku mengikutimu?.”

Ayat ini menunjukkan, bahwa murid mengikuti guru walaupun tingkatnya terpaut jauh, dan dalam kasus belajarnya Musa kepada Khidhir tidak ada hal yang menunjukkan bahwa Khidhir lebih mulia dari pada Musa, karena adakalanya orang yang lebih mulia tidak mengetahui hal yang diketahui oleh orang yang tidak lebih mulia, sebab kemuliaan itu adalah bagi yang dimuliakan Allah.

Hal ini menerangkan kepada kita bahwa orang yang berilmu belum tentu lebih mulia daripada kita yang ilmunya masih kurang. Tetapi kita tetap diwajibkan untuk menuntut ilmu, walaupun orang itu belum tentu lebih mulia dari kita, karena sebenarnya tidak ada yang mengetahui kemuliaan seseorang selain Allah SWT.

Nilai- nilai pendidikan yang terkandung dalam ayat ini antaralain:
1.    Pendidikan bukan hanya dari orang tua kita, tetapi juga orang lain, seperti guru, dosen, pelatih, teman dan masyarakat. Seperti dalam surat diatas yang mencontohkan bagaimana Nabi Musa belajar kepada Khaidir.
2.    Saat berbicara atau berlaku terhadap seorang pendidik haruslah menghormati dan bersikap sopan kepadanya.
3.    Menganggap bahwa pendidik lebih tahu dari pada diri kita.
4.    Belajarlah dengan sungguh-sungguh, maka kita akan berhasil.




BAB III
PENUTUP


A.     Kesimpulan
Subjek pendidikan adalah orang yang berkenaan langsung dengan proses pendidikan dalam hal ini pendidik dan peserta didik.

Pendidik sebagai Subjek Pendidikan telah dijelaskan dalam Al-Qur’an, diantaranya didalam surat:
1)      QS. An- Nahl ayat 41-43 memerintah kita untuk bertanya kepada orang yang lebih tahu. Kita juga diajarkan untuk bersabar dalam pendidikan, baik dalam proses menuntut ilmu maupun mengajarkan ilmu kita.
2)      QS. Al- Kahfi ayat 66 menjelaskan kepada kita bahwa Nabi Khidir adalah subjek pendidikan. Kita dianjurkan untuk berlaku sopan kepada guru. Kita juga diperintahkan untuk mencari ilmu tidak hanya di sekolah, tapi  dimanapun.
3)      QS. Asy-Syu’ara ayat 214 menjelaskan bahwa belak ilmu adalah yang Utama.
4)      QS. An-Nisa ayat 170 menjelaskan bahwa Seorang yang berakal akan mengetahui bahwatetapnya orang dalam kejahilan bingung akan kekufuran mereka terus didera kebimbangan, dan risalah telah terputus dari merka dan tidak sesuai dengan hikmah Allah dan Rahmat-Nya.

B.     Saran
Semoga kita nanti dapat menjadi subjek pendidik yang baik di dalam pendidikan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Kritik dan Saran kami harapkan untuk dapat memperbaiki di pembutan makalah selanjutnya.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKS MC ACARA DRAMA

Makalah Presuposisi (Praanggapan) PRAGMATIK

HASIL ANALISIS NILAI- NILAI YANG TERKANDUNG DALAM FILM SEPATU DAHLAN